Corona Melumpuhkan Roda Kehidupan Olahraga Dunia

7meter.news – Pandemi Virus Corona COVID-19 menjadi horor menakutkan yang melumpuhkan roda kehidupan insan olahraga dunia. Secara masif, virus Corona COVID-19 terus menginfeksi dunia olahraga. Sejumlah pemain tim basket NBA, bintang sepak bola, pelatih sepak bola hingga kru tim balap Formula 1 dinyatakan positif terinfeksi Corona.

Akibatnya, kompetisi NBA, Liga Serie A Italia, turnamen tenis ATP dan WTA, balapan Formula 1, balapan MotoGP, turnamen bulu tangkis dunia, LaLiga Spanyol dan lainnya terpaksa dibatalkan atau ditunda jadwalnya. Olimpiade Tokyo 2020, Piala Eropa 2020 juga terancam ditunda pelaksaannya.

Toh, jika digelar, maka secara terpaksa dilakukan tanpa kehadiran penonton. Alasannya untuk menjaga keselamatan para pemain hingga penonton yang menyaksikan event olahraga secara langsung di stadion.

Pembatalan atau penundaan jadwal kompetisi hingga waktu yang tidak ditentukan karena wabah Virus Corona COVID-19 sangat merugikan banyak pihak yang terlibat dalam sebuah event olahraga. Horor Corona benar-benar melumpuhkan dunia olahraga. Secara ekonomi, pemain, pelatih akan kehilangan gaji atau honor karena klub tidak ada pemasukan dari tiket penonton. Sponsor pun rugi besar karena event olahraga dibatalkan.

Begitu juga penonton akan kehilangan haknya untuk mendapatkan hiburan dengan menyaksikan pertandingan olahraga yang diinginkannya jika harus digelar di tempat tertutup. Tanpa penonton!

Lantas, sampai kapan Horor Corona ini terus mengguncang roda kehidupan insan olahraga? Tidak bisa dipastikan. Karena pandemi Corona COVID-19 terus bergerak menginfeksi dunia tanpa bisa dicegah.

Nah, tinju, sebagai olahraga arena yang sebagian besar dilakukan di dalam ruangan juga mulai terimbas. Kabar terbaru, dua pertandingan tinju dunia di New York, Amerika Serikat, akhir pekan ini, terpaksa dilakukan di stadion tertutup tanpa penonton. Ini menjadi yang pertama sebuah event tinju dilakukan di tempat tertutup tanpa penonton.

Kabar buruknya, bagi pecinta tinju di Inggris, mereka harus bersiap-siap kecewa jika duel perebutan sabuk juara dunia Kelas Berat antara Anthony Joshua vs Kubrat Pulev yang rencananya digelar 20 Juni di Stadion Tottenham Hotspur benar-benar batal digelar.

Sekali lagi, penundaan atau pembatalan pertandingan olahraga atau kompetisi akan mendatangkan sisi buruk secara ekonomi. Akan banyak petinju yang menganggur karena tidak ada jadwal pertarungan. Alhasil, sumber pendapatan utama mereka akan hilang.

Sisi baiknya, kesehatan dan keselamatan keluarga, teman, dan tetangga kita jauh lebih penting dibandingkan memaksakan menonton pertandingan olahraga di bawah ancaman Horor Corona. Kesempatan untuk saling berjaga-jaga.Kesempatan untuk mencoba melindungi mereka yang paling rentan. Kesempatan untuk merenungkan siapa dan apa yang penting dan mengikat kita semua.

Ada saat-saat di mana olahraga dimasukkan ke dalam perspektif sebelumnya. Selama Perang Dunia II, tinju kehilangan beberapa praktisi terbaiknya. Joe Louis dan Tony Zale yang hebat sama-sama kehilangan kira-kira tiga tahun kariernya.

Pemain baseball hebat Ted Williams bertugas di Perang Dunia II dan Korea, dalam pertempuran. Pembatasan perjalanan perang menyebabkan pembatalan Game All Star MLB 1945. Setelah 9/11, pertarungan kejuaraan kelas menengah antara Bernard Hopkins dan Felix Trinidad mengalami penundaan yang tak terlupakan.

Akhirnya, saat-saat itu berlalu. Saat ini, ketidakpastian melimpah. Ini bisa menjadi lebih baik lebih cepat daripada yang tampaknya dalam detik ini atau waktu yang lebih gelap bisa di depan. Efeknya, apa pun, akan terasa di sekitar kita sampai disimpulkan. Ketika krisis mereda, olahraga akan menjadi bagian dari apa yang mengingatkan kita bahwa semuanya akan kembali normal lagi.